Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) sebagai sebuah perguruan tinggi menyadari pentingnya membangun manusia yang paripurna. Tidak dapat disangkal pendidikan itu erat hubungannya dengan pengetahuan yang luas dan mendalam menjadi prasyarat dalam mempersiapkan mahasiswa untuk dapat berperan dalam membangun bangsa. Namun, pengolahan wilayah batin dan spiritual kini dianggap cukup mendesak. Tidak hanya karena hakikat pendidikan itu sendiri perkara membangun karakter dan menanamkan nilai pada seseorang, tetapi juga perlu mendapat perhatian yang lebih khusus.
Zaman ini ditandai oleh adanya krisis atau erosi nilai dan kepemimpinan yang tak berkarakter luhur. Kemajuan teknologi dan pengetahuan malah mengancam nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Krisis nilai merupakan sumbu pendek pada bom waktu yang riskan meledak. Ledakan yang dapat menghancurkan tatanan sosial, disintegrasi dan detoriorasi; kemajuan yang tidak juntrung manfaat dan gunanya; konflik horizontal yang banal; dan tak perlu terjadi. Bahkan bagi diri pribadi orang akan mengalami disorientasi hidup. Hidup berkelimpahan, tetapi tidak bahagia. Berpengetahuan dan cerdas, tetapi tidak melihat manfaat dan gunanya. Nihilisme dan ketidakpastian menandai hidupnya.
Krisis nilai itu berjalan sejajar dengan krisis karakter. Keduanya saling mengandaikan; adanya krisis nilai karena krisis karakter, vice versa. Pemerintah sudah lama menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter. Namun, sebagian perguruan tinggi menganggapnya itu urusan pendidikan dasar dan menengah. UNPAR dalam hal ini meyakini selain pendidikan intelektual itu tak berkesudahan, begitu juga pendidikan karakter. UNPAR memberi ruang yang luas dan prioritas utama dalam membina sisi nilai dan karakter bagi mahasiswanya. Pasalnya, manusia yang tak berkarakter dan tak memiliki nilai-nilai dasar kemanusiaan tidak layak disebut manusia yang sejati.
UNPAR tidak berorientasi pada asal meluluskan mahasiswanya dengan IP tinggi atau sekadar memberikan kertas ijazah seolah-olah telah memenuhi persyaratan lulus, padahal berkualitas mentah dan ala kadarnya. Suatu tanggung jawab moral yang berat ketika orang tua menitipkan mahasiswanya untuk belajar di UNPAR. Perguruan tinggi adalah wadah pengolahan dengan proses yang matang pada pribadi seseorang untuk menjadi “insan amil”. Pendidikan karakter pertama-tama mengolah hati nurani dan batin seseorang di samping pengolahan intelektual. Membuat mahasiswa itu cerdas, cerdik, dan pandai di satu pihak, tetapi juga menjadikan mahasiswa lebih baik.
Selain curricula dalam MKU yang mengajarkan dan mendidik dari segi etika, logika, dan estetika, demikian juga mata kuliah lainnya secara integral memberi perhatian pada proses humaniora; yakni memanusiakan manusia. UNPAR peduli secara kurikuler, ko-kurikuler dan ekstrakurikuler serta sejumlah pendampingan dengan gladi-gladi yang ditangani secara serius dan profesional yang bertujuan membangun karakter dan nilai bagi mahasiswa. Dengan metode service learning, serving leadership, spiritual quotient, emotional quotient, misalnya, dalam berbagai bentuk pelatihan yang berkenaan dengan soft-skill membekali mahasiswa. Mahasiswa dilatih agar dapat bekerja sama, memiliki motivasi diri yang kuat, mempunyai kemampuan dalam menangani persoalan yang mendesak, bertanggung jawab, disiplin yang tinggi, berkepribadian yang menarik dan komunikatif, berbudi bahasa yang anggun dan sopan, kreatif, berpikir kritis terstruktur, percaya diri, dan memiliki integritas yang kuat.
UNPAR berikhtiar selain mempromosikan, menjelaskan untuk dipahami dan disadari juga menginternalisasikan serta mengintegrasikan, bahkan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari di kampus. Kampus sebagai laboratorium pendidikan nilai. Nilai dan keutamaan itu bukan hanya ada dalam tataran kognitif, tetapi nyata dalam penghayatan secara afektif. Keutamaan dan nilai yang dihargai secara universal dan dijunjung tinggi dalam masyarakat seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kepedulian, serta menghargai keberbedaan dan keunikan orang lain menjadi nada dasar yang dominan dalam proses memanusiakan manusia yang utuh dan sejati dalam diri manusia. [FABIE SEBASTIAN HEATUBUN]
Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 18 Agustus 2015) “UNPAR Membuka Ruang Lebar untuk Pendidikan Nilai dan Karakter”




