Perencanaan keuangan atau financial planning jadi satu hal penting bagi para pelajar untuk mempelajari sekaligus memahaminya jelang memasuki siklus dewasa muda. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) memberi pemahaman tersebut kepada para pelajar SMA Putra Nirmala Cirebon, Senin (19/4/2021).
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut diikuti sedikitnya 60 pelajar SMA tingkat akhir, baik pelajar dari kelas 12 konsentrasi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) maupun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pemateri dalam webinar adalah dua dosen dari UNPAR, yaitu Inge Barlian, Dra., Akt., MSc. dan Probowo Erawan Sastroredjo, S.E., M.Sc. Sementara dari SMA Putra Nirmala turut hadir F. Cahyo Hendri Atmoko, S.E selaku Guru Ekonomi dari sekolah tersebut.
Materi pembelajaran keuangan yang dibahas di antaranya perihal alokasi keuangan, nilai waktu dari uang, penggunaan aturan 72 dalam investasi, serta contoh financial planning sebagai gambaran akan pentingnya melakukan perencanaan demi tercapainya kestabilan keuangan.
Probowo dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa siapa pun harus bisa mengalokasikan uang yang didapatkan dengan baik. Tak hanya itu, perlu diketahui bahwa uang memiliki nilai nominal dan nilai intrinsik.
“Jangan sampai dapat uang di awal, dikasih sama orang tua, dalam 2-3 hari sudah habis. Harus tahu juga bahwa uang itu memiliki nilai. Nilai uang di masa sekarang dengan nanti itu berbeda,” tutur Probowo.
Dalam memahami financial planning, lanjut dia, perlu juga diketahui bahwa orang lebih suka mendapatkan keuntungan lebih cepat saat ini daripada kemudian. Oleh karena itu, untuk meminta orang agar mau menunggu/menunda, membutuhkan tawaran yang lebih besar di masa depan.
“Misalnya Rp 100.000 sama sekarang, sama Rp 100.000 tahun depan, sama-sama nominalnya. Saya kasih bujukan ke kalian nanti Rp 100.000-nya tahun depan saja. Nanti saya kasih Rp 100.000 plus saya traktir jajan kuliner paling enak di Cirebon. Dapat uang, dapat makan, jadinya mau menunda, karena ada manfaat tambahan yang diberikan,” ujarnya.
Di sisi lain, orang cenderung lebih memilih untuk membayar atau mengeluarkan biaya kemudian hari daripada segera saat ini.
“Biasanya mereka ketika disuruh membayar itu lebih baik nanti. Kenapa? Karena membayar itu biaya. Sebisa mungkin kalau biaya itu bisa ditunda, lebih baik ditunda. Tapi tidak menghilangkan, karena biaya itu susah untuk dihilangkan apalagi utang. Inilah yang dinamakan dengan nilai waktu dari uang,”ucapnya.
Enggan Berinvestasi
Meski berinvestasi menjanjikan kestabilan keuangan, namun tak sedikit orang yang enggan melakukannya. Mulai dari ketidakpastian ekonomi, ketidakjelasan imbal hasil yang didapatkan, hingga pengaruh inflasi.
“Siapa yang bisa memprediksi bahwa Covid-19 ini akan terjadi? Perekonomian Indonesia pun sebelum Covid-19 bagus dan cenderung naik, namun semenjak adanya Covid-19 banyak warung-warung yang tutup, jam waktu dibatasi dan itu berpengaruh ke ekonomi,” kata Probowo.
Menurut dia, para pelajar perlu mengenal dan belajar memahami aturan 72 dalam berinvestasi. Singkatnya, aturan 72 direkomendasikan bagi semua pihak karena mudah diterapkan untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan investasi. Tujuan akhir tentunya jika melakukan investasi secara konsisten dalam jangka waktu panjang, maka imbal hasil yang didapatkan pun menguntungkan.
“Aturan 72 tersebut akan sangat bermanfaat sekali. Pertama, tahu berapa yang harus ditabung. Kedua, berapa lama waktu untuk menabung. Terakhir, mengetahui berapa keuntungan tabungan. Kalaiu teman-teman menguasai aturan 72 ini, maka akan bisa menjawab ketiga hal tersebut,” tuturnya.
Perilaku Keuangan
Selain pentingnya memahami alokasi keuangan dan aturan 72, Inge Barlian pun mengingatkan bahwa perilaku keuangan menjadi faktor lain yang mempengaruhi perolehan keuntungan seseorang dalam berinvestasi. Perilaku tersebut yaitu perilaku tanpa imbal hasil, imbal hasil tunggal, dan imbal hasil majemuk.
“Kita melihat bahwa kalau uang itu kita diamkan saja, tidak kita investasikan paling sederhana itu ke bank, itu uangnya grafiknya akan terus sama, horizontal terus tanpa imbal hasil. Tetapi kalau simpan di bank, namun kemudian kita bungakan dan bunganya itu kita belikan sesuatu, imbal hasilnya disebut tunggal. Yang menarik, imbal hasil majemuk bersifat eksponensial, di mana bunga berbunga,” ujar Inge.
Perwakilan SMA Putra Nirmala, Cahyo Hendri mengapresiasi materi yang disampaikan. Menurut dia, materi financial planning memberikan pencerahan dan penyadaran betapa pentingnya merencanakan keuangan untuk masa depan.
“Kita tadi sudah mendapatkan gambaran ternyata angka 72 itu sangat amazing sekali. Dapat memberikan kita gambaran sangat jelas, kalau kita investasi sekarang dengan suku bunga sekian, nanti di tahun sekian kita sudah mendapatkan timbal balik berapa. Itu sangat kami rasakan manfaatnya, tentu buat siswa dan juga buat kami,” ucap Cahyo. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)





