Program Studi Teknik Informatika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) pada Kamis (8/4/2021) menyelenggarakan kuliah tamu yang menghadirkan Christian Caesar Henry, MBA selaku Direktur PT. Synergy Partner Mondial. Kuliah tamu secara khusus didesain dengan mengangkat tema Data Science pada Domain Spesifik, Investasi dan Analisis Data Saham.
Kuliah tamu tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mata kuliah Data Science pada Domain Spesifik. Mengangkat topik Investasi dan Analisis Data Saham yang tentunya merupakan salah satu unsur penting dari Data Science dan berguna bagi seorang data scientist dalam proses penggalian insights.
Perkuliahan dimulai dengan pengenalan akan pentingnya investasi saham yang dapat diterapkan untuk kebutuhan pribadi maupun sebagai pengetahuan dasar bagi seorang data scientist yang bertindak sebagai konsultan.
Sebagai contoh, data scientist harus memiliki wawasan dasar mengenai investasi saham jika kelak mereka bekerja sebagai bagian dari Personal Financial Planner. Hal itu agar dapat memberikan insights yang tepat dan nantinya dapat digunakan sebagai salah satu pemberian rekomendasi bagi para kliennya.
Christian dalam perkuliahannya memulai dengan menjelaskan soal investasi saham untuk dewasa muda dengan fokus pada pengenalan investasi serta psikologi keuangan dan investasi.
Dia pun menjelaskan soal mitos dan kekeliruan dalam berinvestasi menurut Gary Keller dalam bukunya “The Millionaire Real Estate Investor”. Misalnya saja, pandangan bahwa ‘Saya tidak perlu menjadi investor, pekerjaan saya yang akan menjadikan saya makmur’. Padahal faktanya, kurang dari 1 persen orang yang menjadi makmur dari pekerjaannya, sebab kita bisa kehilangan pekerjaan dan hanya bisa bekerja sampai umur tertentu.
Kekeliruan lainnya, lanjut dia, adanya anggapan bahwa investor yang sukses harus bisa memperhitungkan waktu yang tepat untuk masuk market. Faktanya, investor harus selalu aktif di dalam market.
“Dengan selalu berada di dalam market, maka investor bisa mengenali dan mengambil kesempatan terbaik yang memang biasanya cepat hilang,” tutur Christian.
Pengenalan investasi pun tentunya berkelindan dengan tujuan utama keuangan pribadi. Christian mengatakan, ada dua macam tujuan utama keuangan pribadi menurut beberapa pakar, yakni untuk terus meningkatkan net worth dan mencapai financial freedom. Menurut dia, sudah menjadi tugas setiap orang untuk meningkatkan net worth pribadi/keluarganya dari waktu ke waktu.
Sementara untuk mencapai financial freedom, bisa dilakukan dengan tiga cara. Pertama melalui Portofolio Income yaitu penghasilan dari surat-surat berharga bisa berupa saham, obligasi, dividen, bunga dan gain. Kedua melalui Passive Income, penghasilan ketika kita pasif dalam artian tidak bekerja yang bisa diperoleh dari hasil sewa rumah, dan income dari bisnis yang autopilot. Terakhir, Earned Income, penghasilan yang diperoleh dari keringat sendiri, biasanya berupa gaji, bonus, dan komisi.
“Kebebasan finansial harus diartikan bahwa dalam keadaan ketika kita tidur pun, kita tetap dapat income. Income untuk cukup menutup expense income. Jika tidak bisa menciptakan passive income, maka seumur hidup harus mendapatkan uang dengan bekerja. Harus mulai membangun passive atau portofolio income agar lebih besar dari biaya hidup,” ujarnya.
Tipe Investor
Lebih lanjut, Christian juga menuturkan bahwa ada tiga tipe investor menurut toleransi mereka terhadap risiko. Tipe pertama adalah Aggressive Investor, tipe ini biasanya berani membeli instrumen-instrumen investasi yang volatile, seperti saham perusahaan kecil yang harga sahamnya bisa turun sampai mendekati Rp 0. Serta mencari maximum returns meski ada maximum risk.
Tipe kedua adalah Moderate Investor, yakni mereka yang berinvestasi dengan mengambil pendekatan moderat dalam berinvestasi. Seperti membeli saham perusahaan besar yang bertumbuh dan harga sahamnya lebih stabil dan juga membeli obligasi.
Terakhir, Conservative Investor. Investor tipe ini lebih memprioritaskan keamanan dan keutuhan modal investasi dibandingkan dengan perolehan hasil investasi. Mereka cenderung tidak mau menerima volatilitas sama sekali dalam tiap instrumen investasinya, sehingga biasanya berinvestasi dalam deposito dan obligasi pemerintah yang sangat aman.
Investor pribadi, lanjut dia, bisa berinvestasi pada berbagai instrumen, misalnya tabungan dan deposito, foreign currencies, logam mulia, obligasi, reksadana, saham, dan real estate.
Menutup akhir perkuliahannya, Christian mengatakan bahwa sebelum memulai investasi, ada baiknya tiap investor memiliki mindset dan tujuan keuangan yang benar. Kemudian perlu mengenali risk tolerance level pada dirinya masing-masing dan perlu mengenali instrumen investasi dan memutuskan komposisi instrumen investasinya masing-masing. Serta jadilah investor yang memiliki rencana dan formula investasi juga sabar.
“Investor itu harus sabar seperti pelari marathon, punya ketahanan jangka panjang. Harus punya formula investasi sendiri, tidak boleh meniru rencana investasi orang lain, karena tiap orang punya kebutuhan keuangan yang berbeda,” ucapnya. (Ira Veratika SN / DAN – KPA Unpar)





