Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parahyangan (FISIP Unpar) 1992 kembali menghadirkan webinar Unpar Talk Series 6 bertajuk “The Future of Learning.” Webinar tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu (1/8/2020). Pada Unpar Talk Series 6 ini, alumni FISIP 1992 menggandeng tiga narasumber yaitu Bismantara (Management Lecturer – STIE Sutaatmadja), Elizabeth Dewi (Kepala Jurusan Hubungan Internasional Unpar), dan Hendra Manurung (Doctoral Student, International Relations – Universitas Padjajaran).
Perubahan Proses
Hendra Manurung menyatakan bahwa kondisi pandemi telah merubah proses hidup manusia. Semula proses hidup berada dalam pola play > study > get a job > retire. Namun, saat ini manusia dituntut untuk menjalani proses play-study-produce secara bersamaan. Pola inilah yang menandai adanya new learning process, yaitu bahwa pembelajaran dapat dilakukan beriringan dengan kegiatan lain.
Hendra juga menyampaikan bahwa permasalahan dari adaptasi new learning process terletak pada ketidaksiapan aktor yang terlibat–– pelajar, pengajar, dan pendamping (orang tua dan wali murid). Selain itu, masalah lainnya adalah sulitnya akses teknologi terutama di daerah-daerah yang tidak mendapatkan akses listrik dan internet. Masalah kesiapan perlu diatasi dengan memperkuat aspek-aspek seperti visi-misi, management support, serta kapabilitas pengajar. Memperkuat hubungan antara pelajar dengan pengajar maupun pelajar dengan pelajar lainnya juga dapat membantu meningkatkan kesiapan adaptasi.
Di Indonesia, new learning process erat hubungannya dengan e-learning. Hal ini sudah dapat disaksikan dengan adanya protokol pembelajaran daring, penggunaan video conference atau aplikasi chat, hingga wisuda online. Di akhir presentasinya, Hendra menyampaikan bahwa masa depan pendidikan di era baru ini bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan seluruh elemen yang terlibat di dalamnya.
Renegosiasi Pembelajaran
Narasumber selanjutnya, Elisabeth ‘Nophie’ Dewi, menyampaikan masa depan pembelajaran melalui judul presentasi ‘Renegosiasi Pembelajaran: Pengalaman Hidup Subyek Pembelajaran.’ Renegosiasi yang dimaksud oleh Nophie dipaparkan dalam beberapa poin: (1) Hilangnya batas antara rumah dan tempat belajar; (2) Semua orang yang terlibat dalam pembelajaran sedang melalui proses migrasi, yaitu dari luring (offline) kepada daring (online); (3) Fungsi pengajar dan pelajar pun berubah.
Pada awalnya dosen adalah pusat dari perhatian kelas, namun saat ini telah terdesentralisasi. Mahasiswa atau pelajar mengalami resentralisasi. Dosen harus berbagi dengan pelajar sebagai subyek atau pusat pembelajaran; (4) Terjadi adalah pedagogi atau sistem pembelajaran alternatif untuk mendukung proses renegosiasi ini; (5) Pendidikan pun mengalami informalisasi.
Melalui pemaparan tersebut, Nophie menyampaikan bahwa terjadi pergeseran paradigma pembelajaran. Mahasiswa atau pelajar tidak lagi menjadi obyek pembelajaran melainkan subyek. Pelajar pun telah masuk kepada sistem self-determined learning–– mereka yang menentukan apa yang mau dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.
Saat ini, peran dosen atau pengajar adalah sebagai ‘pendamping’ yang menemani proses pembelajaran yang telah dipilih oleh subyek. Namun, harus diingat juga bahwa proses pembelajaran bukan hanya mencemerlangkan pelajar tapi memanusiakan mereka. Proses memanusiakan inilah yang akhirnya sulit dilaksanakan melalui new learning process yang bergantung pada daring.
Maka, sistem pembelajaran memperkenalkan ‘Heutagogi.’ Heutagogi adalah pendekatan sistem pembelajaran di mana pelajar bebas untuk menentukan sendiri arah belajarnya. Sehingga, menurut Nophie, dosen saat ini harus bertindak sebagai fasilitator yang bertugas untuk mempermudah proses belajar yang dipilih pelajar itu sendiri.
Masalah Daring
Webinar dilanjutkan dengan presentasi dari Bismantara. Menurut Bisma, Permasalahan umum saat ini ialah banyaknya siswa yang ‘putus sekolah’ karena sekolah ditutup sejak pandemi. Meskipun demikian, banyak negara telah membuka kembali sekolah. Selama masa penutupan sekolah, mayoritas kegiatan belajar dilaksanakan secara daring.
Permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran daring dapat dibagi ke dalam 3 poin; (1) infrastruktur terutama komunikasi, listrik, dan teknologi yang belum merata; (2) mental pelajar Indonesia yang ‘suka rebahan’ dan instant result; serta (3) budaya pelajar yang identik sebagai followers, bukan leader apalagi doer.
Meskipun begitu, masyarakat harus berusaha untuk beradaptasi dengan kondisi baru saat ini. Setiap elemen masyarakat adalah new learner dari situasi pandemi saat ini. Banyak strategi yang bisa digunakan untuk beradaptasi dengan situasi saat ini. Namun satu yang pasti, tidak ada strategi yang cocok bagi semua orang–– no one size fit all.
Maka, sebagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan, Unpar beserta seluruh elemen yang terlibat di dalamnya, akan selalu berusaha untuk memaksimalkan pembelajaran yang diperoleh setiap mahasiswanya. Sehingga, walaupun saat ini pembelajaran masih belum berjalan normal, setiap entitas masih dapat merasakan proses pembelajaran sebagaimana mestinya. (AKA/DAN – Divisi Publikasi)





