Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau Small and Medium Enterprises (UMKM / SME) telah terbukti memberikan dampak signifikan dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Peluang bagi masyarakat untuk menciptakan usaha-usaha berdasarkan potensi lokal semakin terbuka dengan adanya teknologi digital yang mudah dijangkau publik. Di sisi lain, persaingan di tingkat lokal dan global juga menghasilkan tantangan bagi para pelaku bisnis UMKM.
Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) bekerja sama dengan International Council for Small Business (ICSB) Indonesia Chapter West Java menyelenggarakan International Business Seminar 2019 pada Rabu (21/8), bertempat di Ruang Veritas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar. Dengan mengusung tema “Humane Entrepreneurship Facing Industry 4.0”, forum ilmiah ini menjadi wadah bagi pengembangan kewirausahaan yang humanis menghadapi perubahan pesat, khususnya lewat teknologi informasi dan komunikasi di tingkat global.
Acara dibuka dengan penampilan seni budaya oleh Lingkung Seni Tradisional (Listra) Unpar serta masyarakat dari Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, dimana Unpar merupakan mitra pengembangan masyarakat desa tersebut. Penampilan Angklung Buncis dan Tari Kaulinan dari anak-anak Cireundeu ini mendapat sambutan hangat dari hadirin seminar.
Membuka kegiatan seminar, Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D. menyambut baik kehadiran akademisi dan pemerhati bisnis dalam membahas kewirausahaan yang humanis. Hal ini sejalan dengan visi institusional Unpar dalam pengembangan masyarakat dan pemeliharaan alam ciptaan.
“This university underline the point of being an academic humanity, and try to lift up the local values to the global level (Universitas ini menggarisbawahi pentingnya kemanusiaan akademik, dan mencoba mengangkat nilai-nilai lokal ke tataran global – red.),” tegasnya. Unpar, lanjutnya, akan terus menjalankan proses pengembangan diri dan pengabdian yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan, khususnya di bidang kesejahteraan masyarakat.
Peluang bagi Jawa Barat
Dalam pidato pokok seminar, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan besarnya peluang UMKM di Jawa Barat, apalagi dengan keberadaan teknologi saat ini. Menurutnya, tantangan bagi masyarakat saat ini adalah pemerataan kesejahteraan, khususnya lewat pembangunan infrastruktur. “The gap between the urban (society) is big compared to the rural (Celah antara masyarakat perkotaan sangatlah besar dibandingkan dengan masyarakat pedesaan – red.),” ungkapnya.
Namun, dengan melihat tren positif dari berbagai kemajuan kewirausahaan di tengah-tengah masyarakat, Kang Emil menilai Jawa Barat memiliki potensi yang besar untuk menjadi yang terdepan dalam bidang kewirausahaan rakyat. “I’m very optimistic that West Java will be (the most) progressive province when it comes to Small and Medium Enterprises (Saya sangat optimistis Jawa Barat mampu menjadi yang paling maju dalam bidang UMKM – red.),” katanya. Tentunya hal ini tidak lepas dari strategi pengembangan kewirausahaan yang diregulasi pemerintah dan dijalankan lewat kolaborasi dengan masyarakat.
Seminar Bisnis Internasional ini menghadirkan narasumber yang merupakan praktisi sekaligus akademisi di bidang manajemen dan kewirausahaan, antara lain Ahmed Osman (Presiden ICSB Global), Profesor Ki Chan Kim (Catholic University of Korea), Hermawan Kertajaya (Ketua ICSB Indonesia, pendiri Markplus Inc.), Diana Sari, Ph.D. (Universitas Padjajaran), Dr. Margaretha Banowati Talim (Universitas Katolik Parahyangan), serta Bang Jung-Hwan (Penulis “Why Indonesia?”).
Pada kesempatan yang sama, diselenggarakan pula kegiatan peluncuran buku “Humane Entrepreneurship” serta pusat studi kewirausahaan di Unpar, yaitu Center of Parahyangan Humane Entrepreneurship Studies. Peluncuran ini ditandai dengan pembubuhan tandatangan oleh Gubernur Jawa Barat, Rektor Unpar, Perwakilan ICSB dan FISIP Unpar. (DAN)





