Universitas menjadi wadah menimba ilmu di tingkat pendidikan tinggi. Peran universitas tentunya sangat berpengaruh bagi pengembangan kompetensi seluruh sivitas akademika, termasuk dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan. Sebagai sebuah universitas swasta yang akan memasuki usia ke-63, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) meyakini pentingnya peran tersebut dalam mendorong dan mendukung pengembangan seluruh sivitas akademikanya. Tentunya, dengan beragam upaya terkait pencapaian tujuan tersebut.
Wakil Rektor Bidang Modal Insani dan Kemahasiswaan Dr. Paulus Sukapto, membagikan pandangannya terkait pengembangan aktivitas kemahasiswaan dan upaya peningkatan kompetensi pegawai yang ada di Unpar.
Kemahasiswaan
Kepada tim Publikasi Unpar, beliau mengatakan kondisi kemahasiswaan di Unpar saat ini cukup progresif. Beragam aktivitas kemahasiswaan secara rutin diadakan oleh universitas, fakultas, program studi (prodi), hingga Persatuan Mahasiswa (PM) Unpar yang meliputi Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM), Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), dan unit kegiatan mahasiswa (UKM). “Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan saya kira cukup padat yah. Saya kira masing-masing program studi, himpunan, cukup banyak (mengadakan) aktivitas-aktivitas (tersebut)”, ungkap beliau yang ditemui pada Senin (27/11).
Beragam prestasi di berbagai bidang juga menjadi bentuk kontribusi aktif para mahasiswa. “WISSEMU juga saya kira menjadi suatu perhatian mahasiswa di seluruh Indonesia karena keberhasilannya naik puncak gunung tertinggi di berbagai benua,” sebutnya. Tracer study yang ditujukan bagi alumni Unpar juga mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti). Selain itu, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berhasil meloloskan empat proposal di tahun 2017 lalu. “Itu saya kira juga sesuatu hal yang positif”, ungkap beliau yang merupakan dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI) Unpar.
Unpar mempunyai sebuah unit, yaitu Pusat Pengembangan Karir (PPK). Melalui PPK, Unpar terus berupaya untuk menyediakan fasilitas bagi pengembangan karir mahasiswa dan para lulusannya. Tentunya, jelas beliau, juga sebagai sarana untuk mengembangkan soft skill.
Dr. Paulus Sukapto yang akrab disapa Pak Kapto mengatakan, kegiatan kemahasiswaan Unpar sudah mendekati angka ideal. Berdasarkan data menurut sistem penjaminan mutu internal, Unpar sudah mencapai presentasi dengan nilai 18.6 yang mana angka maksimal adalah 20%.
Menanggapi hal tersebut, tentunya Unpar harus terus berupaya untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan agar dapat meningkatkan pemeringkatan Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti). “(Kegiatan kemahasiswaan) ini bisa menunjukkan kinerjanya (Unpar) sehingga bisa menaikan pemeringkatan perguruan tinggi ya. Kemarin saya kira, kita punya nilai yang terus-menerus sudah membaik ya”, tambahnya.
Pengembangan modal insani
Di sisi lain, berbicara mengenai pengembangan modal insani terbagi menjadi dua yaitu berkaitan dengan dosen dan tenaga kependidikan. Saat ini, sebut Pak Kapto, Unpar memiliki kurang lebih 374 orang dosen dan 402 tenaga kependidikan. Dalam lima tahun terakhir, pengembangan dosen terutama yang berkaitan dengan kenaikan jabatan fungsional menjadi sorotan serius. Hal lainnya adalah yang berkaitan dengan guru besar. Unpar kini memiliki 12 orang guru besar. “Dan kita terus-menerus mendorong agar dosen-dosen mengurus jabatan fungsional terutama guru besar”, kata Pak Kapto. Bagi para dosen, perihal kenaikan jabatan fungsional yaitu lektor kepala dan guru besar menjadi tantangan yang serius.
Kedua, beliau menambahkan, tantangan selanjutnya adalah terkait studi lanjut. Hasil visitasi tim asesor BAN-PT beberapa waktu lalu menunjukkan jumlah dosen yang telah menyelesaikan studi doktorat masih di bawah harapan. Beberapa prodi memiliki nisbah yang masih berada di bawah ketentuan. Menanggapi hal ini, Unpar berupaya untuk mendorong rekrutmen dosen yang berkualitas baik. Tidak hanya perihal kenaikan jabatan fungsional dan studi lanjut, penyelenggaraan pelatihan-pelatihan bagi para dosen senior khususnya, juga menjadi fokus Unpar.
Selanjutnya, kinerja tenaga kependidikan menjadi hal lain yang menjadi prioritas. Pak Kapto menyampaikan, “Nah, bagaimana kita mengupayakan agar supaya para tenaga kependidikan bisa bekerja dengan seoptimal mungkin yah”. Tentunya, tambah beliau, upaya-upaya seperti sistem rotasi pegawai dan pemberdayaan perlu menjadi pertimbangan. Juga, termasuk pembinaan tenaga kependidikan melalui studi lanjut dan pengembangan keterampilan. Biro Pengembangan Modal Insani (BPMI) secara rutin menyelenggarakan berbagai program pengembangan pegawai berupa pelatihan-pelatihan dengan topik yang beragam. Hal tersebut tentunya menjadi langkah yang baik sebagai bentuk dukungan dan apresiasi bagi pegawai Unpar.
Kemudian, terkait asesmen. Survei kepuasan pegawai yang dilakukan pada Oktober lalu menghasilkan laporan yang terdiri dari sejumlah dimensi penilaian. Adapun, dimensi tersebut mencakup penilaian karir dan promosi, pelatihan dan pengembangan, kinerja, kompensasi, jaminan hari tua, kesehatan, dan keselamatan kerja.
“Ada 12 hal yang perlu kita lakukan perbaikan,” ujar Pak Kapto. Yang pertama adalah memastikan bagaimana pegawai di Unpar mempunyai rasa aman saat pensiun. Kemudian, yang kedua adalah sistem penilaian kerja. Lalu, bagaimana keadilan untuk promosi dan penilaian kinerja adalah satu hal yang penting. Kelima, bagaimana korelasi kinerja dengan promosi yang diberikan serta keenam adalah tindak lanjut dari penilaian kinerja tersebut. Fasilitas untuk pencegahan kecelakaan kerja dan tunjangan kesehatan kerja menjadi fokus lainnya. Lalu, ada juga yang penting bagi karyawan muda yaitu pinjaman perumahan. Juga, kadang dilupakan adalah apresiasi daripada pimpinan. Peluang untuk mendapatkan promosi, rupanya tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Terakhir, adanya kemungkinan pindah unit kerja. “Nah ini adalah 12 poin untuk ke depan yah. Perlu kita lakukan untuk waktu satu tahun yang akan datang. Itu yang berkaitan dengan SDM”, paparnya memberikan penjelasan mengenai kepegawaian di Unpar.
Menyambut Dies Unpar pada Januari 2018 mendatang, ia berharap adanya upaya kebersamaan untuk mewujudkan kreativitas seluruh sivitas akademika Unpar. Kebersamaan tersebut tidak hanya sebatas internal Unpar tetapi bagi masyarakat sekitar. “Unpar menjadi bagian bukan hanya bagi masyarakatnya sendiri tapi juga dengan masyarakat (secara umum)”, pungkasnya.
(Wawancara: Dr. Paulus Sukapto Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Modal Insani)





