Kebayoran Lama-Dua mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, yakni Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, sebentar lagi menyelesaikan misi pendakian tujuh gunung tertinggi di dunia. Mereka baru saja menyelesaikan pendakian gunung keenam, yakni Denali, di Alaska, Amerika Utara. Dua hari lalu, meski lelah, keduanya berkunjung ke kantor Jawa Pos dalam keadaan bahagia. Mereka terus dikejar-kejar wartawan hingga kini. Suara Mathilda bahkan masih sedikit parau ketika berbagi cerita dengan Jawa Pos.
“Saat sampai di puncak, haru dan senang. Saya menangis,” kata Mathilda menjawab pertanyaan mengenai hal-hal yang berkesan dalam pendakian.
Pancaran kebanggaan di wajah dua dara tersebut sangat wajar. Apalagi keduanya menjadi perempuan Indonesia pertama yang berhasil mencapai puncak Denali yang memiliki ketinggian 6,168 meter di atas permukaan laut (mdpl). Mereka mencapai puncak pada 1 Juli.
Lima gunung yang didaki Fransiska dan Mathilda sebelum Denali adalah Carstensz Pyramid, Elbrus, Kilimanjaro, Aconcagua, dan Vinson Massif. Maret tahun depan, mereka mendaki gunung terakhir, yakni Everest (8,848 mdpl). “Perjalanan dimulai dari puncak terendah sampai tertinggi. Sisa waktu tidak banyak. Jadi, pendakian yang lewat itu menjadi pelatihan untuk pendakian berikutnya,” jelas Mathilda.
Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan sejauh ini adalah perbedaan perlakukan masyarakat Indonesia dan beberapa negara terhadap gunung. “Di sana, benar-benar tertib. Peraturan dilaksanakan dengan baik. Jumlah eksekutor aturan-aturan ideal,” terang Mathilda.
Menurut dia, Indonesia perlu belajar dalam hal tersebut. “Kadang, di Indonesia, masih terlihat orang naik gunung hanya menggunakan sandal jepit. Kemudian, buang sampah sembarangan,” sambung Mathilda.
Fransiska menambahkan, perlakuan terhadap beberapa gunung di Indonesia sudah cukup baik. Namun, perlakuannya belum sebaik yang dilakukan terhadap gunung-gunung tertinggi di dunia. “Indonesia mungkin bisa dibilang sedang menuju ke sana. Benar, kalau tidak ada yang mengeksekusi, aturan yang baik tidak berguna. Di sana (luar negeri, Red), petugasnya lengkap dan ada di lapangan,” paparnya.
Kemudian, mengeksekusi aturan juga menjadi tugas masyarakat. Perilaku warga setempat sangat menentukan efektivitas aturan tentang pengelolaan gunung-gunung sebagai tempat wisata dan pendakian.
Fransiska menyatakan, tujuan lain mendaki tujuh gunung tertinggi di dunia tersebut adalah menggugah perempuan. “Perempuan juga bisa melakukan kegiatan yang menantang. Manfaatnya banyak,” ucapnya.
Menurut Fransiska, mendaki gunung juga bisa mengubah sikap dan perilaku. Mengingat, pendakian bukan pekerjaan yang mudah. Modalnya bukan hanya keberanian. Mereka yang malas dan tidak bisa mandiri tidak akan diperbolehkan mendaki sebelum berubah. “Melihatnya mudah. Kalau orang suka buang sampah sembarangan, berarti malas. Tidak bisa diperbolehkan begitu saja ikut program pendakian,” tambahnya.
Sumber: Jawa Pos (Kamis, 27 Juli 2017)





