Magang di Akatiga, Bantu Kaum Marginal

Kaum Marginal

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memiliki sejumlah kerja sama internasional dengan banyak instansi dan institusi, salah satunya adalah Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS). Konsorsium ini memberikan kesempatan kepada warga negara Australia untuk berkuliah di Indonesia selama satu semester penuh. Unpar merupakan tuan rumah bagi International Relations Program dan West Java Field Study. Program ini didanai oleh pemerintah Australia lewat New Colombo Plan.Kaum marginal

Pada semester genap 2016/2017, Unpar menerima sebanyak 14 mahasiswa ACICIS. Setelah menjalani satu semester di Unpar, lima mahasiswi ACICIS tidak begitu saja kembali ke Australia. Salah satu mahasiswi ACICIS, Narelle Wilson, menggunakan waktunya untuk magang di Yayasan Akatiga. Ia akan memperpanjang izin tinggalnya di Indonesia sampai dengan Juli mendatang. Program magang itu berlangsung sejak 5 Juni lalu sampai dengan 28 Juli 2017. Adapun Akatiga merupakan lembaga penelitian non-profit yang mengarahkan dirinya untuk menjadi rujukan terdepan penelitian bagi perubahan kaum marginal di Indonesia, melalui kegiatan riset, advokasi, dan pertukaran pengetahuan.

Sebelum mengikuti program ACICIS, Wilson bekerja dan menetap sementara di Hong Kong. Meskipun begitu, ia tetap terdaftar sebagai mahasiswi aktif Universitas Murdoch dan berkuliah secara daring. Pengalamannya di Hong Kong memancing minatnya untuk mempelajari keragaman dan kompleksitas budaya di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Menurutnya, untuk memahami lebih jauh mengenai budaya Indonesia perlu waktu untuk tinggal di beberapa kota di Indonesia.

Mahasiswi yang berasal dari Melbourne, Australia ini bergairah dalam mempelajari metodologi dan implementasi penelitian sosial dan program pengembangan. Maka, ia memilih untuk magang di Yayasan Akatiga dalam Professional Placement Program ACICIS. Bidang konsentrasi Akatiga pun menarik minat Narelle. AKATIGA is recognised as being an established and experienced research organisation, particularly in the area of researching and helping marginalised peoples, in reducing inequality, empowering women and providing education programmes, to name a few, and this is done by working with the communities in a knowledge exchange and training activities which is inclusive of the community and sustainable,” ujarnya.

Manfaat Magang bagi Mahasiswi Ekspat

Wilson percaya bahwa dengan melakukan penelitian sosial pada bidang-bidang tersebut akan membantunya dalam memahami penyebab kekerasan sosial dan perilaku ekstrem masyarakat karena secara khusus, ia tertarik pada counter-terrorism. Selain itu, ia menambahkan, “I have a strong interest in Social Cohesion and reducing inequality and marginalisation. I hoped to learn how to design programs and policy at a grass roots level to overcome social problems.”

Selama masa magang, Wilson diminta untuk membantu para peneliti di Akatiga dalam penyusunan proposal untuk pendanaan. Ia membantu dalam publikasi laporan tahunan yang sedang dalam proses penyusunan. Yayasan Akatiga meminta Wilson untuk menyunting ringkasan berbagai proyek yang berhasil dilaksanakan pada tahun anggaran lalu. Proses sunting itu dilakukan untuk memastikan penjelasan tujuan dan pencapaian hasil proyek sudah tepat. Untuk itu, ia harus membaca keseluruhan laporan proyek sehingga tidak ada yang terlupakan. Selain itu, Wilson diminta untuk mengecek dan menyunting tata bahasa sejumlah dokumen yang ditulis dalam Bahasa Inggris.

Adapun, Wilson membantu peneliti senior dalam menyusun proposal pendanaan untuk proyek yang baru. Proyek ini merupakan program kerja sama antara United Nations Children’s Fund (Unicef) dan pemerintah Indonesia, serta organisasi nantinya dipilih untuk diberi pendanaan. Menurut Wilson, program ini sangat menarik karena menyediakan pengembangan untuk anak usia dini (early childhood development) yang berusia tiga sampai enam tahun, yang merupakan kelompok usia anak di Bogor. Kelompok usia ini mencapai 53 persen dari angka demografi anak yang tidak mendapatkan pendidikan atau tidak bersekolah.

I am asked to attend some meetings and invited and encouraged to make comments and/or ask questions or seek clarification,” tambahnya.

Meskipun keahlian Bahasa Indonesia Wilson masih terbatas, tetapi ia berharap melalui program magang ini kemampuan bahasanya dapat terasah. Yayasan Akatiga tidak mewajibkan Wilson untuk fasih berbahasa Indonesia. Namun, kata Wilson, untuk berkomunikasi dengan komunitas di mana Akatiga terlibat, termasuk para staf, ia memanfaatkan penggunaan bahasa Indonesia.

Selain terlibat dalam penelitian, ia pun akan terjun ke lapangan untuk memeroleh data-data yang diperlukan di dalam penelitian. Berdasarkan Tridharma Perguruan Tinggi, yang terdiri dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Pendidikan yang sudah dienyam perlu ditransformasikan ke dalam penelitian dan hasilnya pendidikan serta penelitian itu diabdikan kepada masyarakat dengan berbagai bentuk.

Akatiga melakukan sejumlah penelitian untuk mengevaluasi program dan kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan. Hasil penelitian Akatiga berpengaruh besar dalam pengambilan kebijakan dalam pemerintahan. Maka, Yayasan Akatiga selalu menyoroti isu agraria, perburuhan, usaha kecil-mikro, dan tata kelola pemerintahan. keempat tema itu mewakili sumber daya yang seyogyanya bisa diakses oleh masyarakat miskin supaya berhasil keluar dari lingkaran kemiskinan.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jun 16, 2017

X