Sejumlah tokoh pergerakan nasional Indonesia dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi masyarakat pribumi pada zaman kolonial Belanda. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Sekolah Muhammadiyah pada 1912, disusul dengan pembentukan Taman Siswa pada 1922 yang diinisiasi oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Pemerataan Pendidikan
Hampir seabad sejak Taman Siswa pertama kali dibuka, generasi muda Indonesia mengalami perkembangan yang makin pesat. Akses pendidikan yang terbuka bagi semua, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang mendukung terselenggaranya pendidikan yang dapat diakses oleh seluruh warga negara, menjadikan kondisi keilmuan masa kini lebih maju dibandingkan kondisi seabad yang lalu.
Namun, dengan perubahan-perubahan yang ada, muncul sebuah pertanyaan: apakah hal ini menjadi pertanda bahwa pendidikan berkualitas telah tersedia merata bagi seluruh bangsa Indonesia? Hal inilah yang menjadi pendorong bagi Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) untuk menyelenggarakan suatu refleksi bertema “Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas”. Kegiatan yang dipandu oleh Elisabeth Adyiningtyas Satya Dewi Ph.D., ini bertepatan dengan momen Hari Pendidikan Nasional, dan mengundang pelaku pendidikan yang memberikan inspirasi lewat karya mereka masing-masing.
Dari Sumba hingga Lani Jaya
Perbedaan latar belakang serta lingkungan sosial masyarakat mengundang berbagai tantangan spesifik bagi setiap pembicara. Misalnya, Suster Mathilda Franke, ODM., yang berkarya di Sumba Barat Daya, NTT. Pendidikan di daerah ini memang tidak begitu berkembang seperti di kota-kota besar di Indonesia.
Ketiadaan tenaga pengajar yang berkualitas secara akademis menjadi kendala yang berarti dalam karya pelayanannya. Kurangnya kepekaan masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi generasi muda juga menjadi faktor penghambat bagi Suster Mathilda dan rekan-rekannya.
Lain lagi dengan pengalaman Stefanus Onggo, alumnus Unpar yang menjadi staf pengajar dalam organisasi Indonesia Mengajar. Organisasi yang bergerak dalam bidang penyediaan pendidikan yang berkualitas di daerah pedalaman ini membawa Ifan, sapaan Stefanus, untuk mengajar di Majene, Sulawesi Barat, dan di Lani Jaya, Papua. Meskipun fasilitas pendidikan sudah memadai, Ifan menyayangkan kurangnya kualitas dan semangat dari tenaga pendidik yang ada. Hal ini menyebabkan ketertinggalan pendidikan di kawasan-kawasan tersebut.
Satu hal yang sama di antara refleksi Suster Mathilda dan Ifan adalah bagaimana mereka melihat semangat generasi muda yang tinggi untuk bersekolah. Antusiasme dan rasa ingin tahu yang tinggi dari anak-anak menjadi motor penggerak bagi keduanya, serta rekan-rekannya, untuk terus berkarya dan membagikan ilmu bagi generasi muda.
Menggerakkan Masyarakat
Satu tenaga pendidik yang diundang dalam refleksi menceritakan bagaimana pendidikan dapat memajukan masyarakatnya. Adalah Wijiyono, yang pernah berkesempatan memimpin Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Desanya pernah terpilih sebagai salah satu desa terbaik di Jawa Barat.
Prestasi itu tidak lain karena kesadaran masyarakatnya akan pentingnya pendidikan sebagai salah satu komponen pendorong kemajuan. Salah satu contohnya, pembangunan sekolah menengah kejuruan sebagai pengganti sekolah menengah atas, yang memang belum hadir di desa tersebut. Dengan keberadaan SMK yang bebas biaya, Desa Sukalaksana mampu mewujudkan Program Wajib Belajar 12 tahun bagi warganya, yang berdampak sangat baik bagi kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat.
Lalu, bagaimana dengan posisi perguruan tinggi dalam pemerataan pendidikan yang berkualitas? Hal ini dijawab dalam refleksi terakhir oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar Dr. Pius Sugeng Prasetyo. Refleksinya menyadarkan hadirin akan pentingnya Spiritualitas dan Nilai Dasar Unpar (SINDU) sebagai pedoman meningkatkan kualitas pendidikan masa kini. Setiap akademisi tidak hanya bertanggung jawab bagi pengembangan ilmu pribadi maupun kelompok semata, tapi juga bagi masyarakat luas. Oleh karenanya, pengabdian diri masyarakat akademis lewat penyebaran dan pemerataan pendidikan berkualitas menjadi hal yang sangat penting demi kemajuan sektor pendidikan, dan kemajuan bangsa secara keseluruhan.
Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 9 Mei 2017)





