Merangkul generasi muda dalam penjelajahan ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting bagi pembangunan bangsa. Tanpa ilmu, generasi muda tidak memiliki bekal dalam menghadapi tantangan bangsa ini di masa depan, maupun perubahan pesat yang terjadi dalam skala global. Ilmu menjadi modal utama bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Membangun negeri
Mahasiswa, sebagai bagian dari komunitas akademik, berbagi tanggung jawab dengan berbagai kalangan dalam mencetak generasi muda yang memiliki kualitas keilmuan yang baik. Meski sejatinya mahasiswa adalah akademisi yang sedang menempuh pendidikan, tidak ada salahnya bila mereka berbagi ilmu yang telah mereka miliki kepada sesama, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang berusia lebih muda dibandingkan mereka.
Mengabdi kepada Masyarakat
Pengabdian kepada masyarakat berdasarkan prinsip Ketuhanan, moralitas, budaya serta nilai-nilai akademis, menjadi salah satu tugas penting yang dimiliki dan dijunjung tinggi oleh universitas, selaku institusi pendidikan tinggi. Sejalan dengan misi universitas sebagai lembaga pengembangan ilmu dan pengabdian bagi masyarakat, setiap sivitas akademika, khususnya mahasiswa, yang berkarya dan menimba ilmu di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memiliki kewajiban untuk mengamalkan ilmu yang mereka miliki secara langsung dan nyata bagi masyarakat.
Berbagai kegiatan pengabdian telah dilakukan oleh mahasiswa, sebagai bentuk kesadaran akan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa. Namun, bukan hanya bagi masyarakat luas saja. Mahasiswa juga memberi perhatian khusus bagi generasi muda, yang akan menjadi penyokong bangsa di masa depan. Hal ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang dikhususkan bagi anak-anak dan remaja.
Salah satunya melalui kegitan bertajuk “MathCares” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Matematika (HMPSM) Unpar. Melalui program ini, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa matematika, sebagai salah satu ilmu paling dasar bagi manusia, merupakan hal yang menarik, menyenangkan, serta dapat membawa anak-anak dan remaja sebagai generasi muda lebih dekat menuju angan yang ingin mereka capai. Kegiatan yang mengangkat tema “Closer” ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sebab penyelenggaraannya tidak hanya dalam satu hari, melainkan selama tiga bulan berturut-turut, mulai dari tanggal 3 Februari, hingga 29 April 2017. Keseluruhan rangkaian kegiatan diadakan di kawasan Jalan Linggawastu, RT 07/ RW 16, Kota Bandung.
Tidak hanya memberikan ilmu lewat kegiatan pengajaran semata, mahasiswa pun dapat menerapkan ilmu yang dimiliki secara nyata. Hal ini terlihat dari salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Industri (HMPSTI) Unpar. Dalam kegiatan Bakti Sosial Teknik Industri (BAKTI), mereka menggunakan ilmu ergonomika sebagai modal dalam merancang kursi roda bagi penderita cerebral palsy, di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma, Taman Kopo Indah, Bandung. Kegiatan ini berlangsung pada 11 Februari, 25 Maret, serta 2 April 2017 lalu.
Selain itu, bakti bagi generasi muda juga dapat dilakukan melalui kegiatan ASEAN for Kids (AFK), yang tahun ini kebetulan bertepatan dengan ulang tahun ASEAN yang ke-50. Kegiatan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) Unpar ini merupakan sarana pembelajaran bagi anak-anak mengenai keberadaan ASEAN. Tidak bisa disangkal, bahwa kita merupakan bagian dari komunitas besar bernama ASEAN, dan memahami hal tersebut sejak dini menjadi hal yang sangat penting bagi perkembangan generasi muda di masa mendatang.
Selama dua hari, dari Jumat, 31 Maret hingga Sabtu, 1 April, mahasiswa memberikan pengetahuan mengenai ASEAN kepada siswa-siswi kelas 5 yang bersekolah di SDN 1 Ciumbuleuit. Konsep besar kegiatan ini adalah belajar sambil bermain, dengan menggabungkan metode pembelajaran audio, visual, dan kinestetik. Berbagai kegiatan, seperti menonton film animasi ASEAN, kuis interaktif, serta menggambar dan mewarnai, mengajak siswa-siswi mengenal lebih jauh apa itu ASEAN. Selama kegiatan, anak-anak dibekali oleh modul yang berisi informasi mengenai ASEAN, serta didampingi oleh relawan (volunteer) yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Hubungan Internasional Unpar.
Satu kesamaan dalam tiga kegiatan pengabdian masyarakat ini, adalah adanya semangat mahasiswa dalam merangkul anak-anak serta remaja. Meskipun keduanya merupakan generasi muda, namun usia dan kualitas keilmuan yang dimiliki oleh keduanya berbeda. Hal inilah yang membuat keduanya bisa saling berbagi satu dengan yang lain. Bagi anak-anak dan mahasiswa, berbagai ilmu dan keceriaan mereka dapatkan lewat interaksinya dengan mahasiswa. Bagi mahasiswa, mereka pun mendapatkan pengalaman berharga akan kondisi masyarakat dan lingkungan sekitarnya secara nyata. Selain itu, kegiatan-kegiatan ini mengasah kepedulian yang dimiliki oleh mahasiswa, sehingga diharapkan, mereka mampu mengubah kepedulian tersebut menjadi tindakan, dan menjadi agen perubahan.
Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 11 April 2017)





