Harapan Tiga Mahasiswi Unpar untuk Membuat Mesin Otomatis Botol Plastik

Salju menyambut hangat Rima dan Alya seraya mereka datang di the Big Apple. New York hanya kota singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Boston mengendarai bus umum.

Kedua mahasiswi Hubungan Internasional (HI) itu mewakili Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dalam gelaran Harvard National Model United Nations (HNMUN) di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), pada 16-19 Februari 2017. Bersama dengan lima mahasiswa lain dari berbagai jurusan, mereka didampingi oleh seorang dosen pembimbing yang juga merupakan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Aknolt Kristian Pakpahan.

Kesempatan Rima sebagai mahasiswa hanya tinggal menghitung minggu. Harvard National Model United Nations (HNMUN) menjadi satu-satunya kesempatan Rima untuk merasakan Hubungan Internasional (HI) yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan Unpar. Namun, pertama baginya menapakkan kaki di negeri Paman Sam. Lain halnya dengan Alya pernah mewakili Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) di konferensi tersohor itu tahun 2016.

Seluruh perasaan bercampur aduk menjelang hari pertama konferensi di pusat kota Boston. Bagaimana tidak, lebih dari 3 ribu mahasiswa dari seluruh penjuru dunia akan menghadiri konferensi yang dibentuk 62 tahun lalu itu. Kendala bahasa bukan hanya tantangan yang harus diatasi, tetapi standar pemenang semakin tinggi seiring tahun berganti. “Semoga semua latihan selama beberapa bulan terakhir ini terbayarkan,” bisik Alya, dan Rima mengamini.

Karena peserta HNMUN tembus angka 3 ribu mahasiswa, konferensi dibagi ke dalam 27 komite yang dikategorikan ke dalam empat komite besar, yaitu Specialised Agencies, Regional Bodies, Economic and Social Council, dan General Assembly. Lomba yang diadakan oleh HNMUN tidak hanya sekadar lombat debat di dalam komite-komite itu, tetapi sejak tahun 2014, konferensi bekerja sama dengan The Resolution Project membuat satu lomba baru. Bertajuk Social Venture Challenge (SVC), lomba ini bertujuan untuk mengembangkan tanggung jawab sosial dan memberdayakan para pemimpin muda untuk memberikan dampak positif di masyarakat.

Rima dan Alya terkagum-kagum dengan presentasi proyek-proyek SCV dari negara-negara lain.  Bersama dengan satu orang anggota tim lain yang berasal dari jurusan Teknologi Industri bernama Ria, mereka mengikuti SCV itu. “Kita berusaha saja, enggak berharap tinggi. Uniknya, kita bisa lihat proyek lain yang keren dan ketika di sana, kayak amazed. Soal menang mah sudah diatur (oleh Tuhan),” tutur Alya ketika ditemui di Coop Space.

Rima mengingat-ingat momen selama mengikuti HNMUN. Ia terkesima dengan satu proyek milik kelompok mahasiswa kedokteran dari Venezuela yang ingin meningkatkan kesadaran ibu-ibu yang belum mengetahui kanker serviks yang menjadi pembunuh terbesar kedua di the Land of Grace ini. Perencanaan strategis, praktik di daerah-daerah kecil, dan penelitian yang komprehensif mengantarkan mereka menjadi pemenang SVC. Proyek lainnya yang membuat Rima dan Alya takjub adalah milik kelompok mahasiswa kedokteran gigi Universitas Brawijaya yang membuat kotak untuk membersihkan alat-alat dental care dengan menggunakan sinar ultraviolet (UV). Satu hal yang menurut Rima membuat proyek ini sangat hebat adalah kotak ini akan dikirimkan ke dokter-dokter di pedalaman. Proyek yang dinamakan Denmox ini pun memenangkan SVC.

Pemenang diumumkan pada closing ceremony hari keempat. Namun, tidak hanya satu atau dua pemenang saja, dua tim lainnya berasal dari Ghana yang bergerak di bidang pendidikan. Terakhir, proyek milik Rima, Alya, dan Ria berhasil keluar menjadi pemenang.

Bila empat proyek sebelumnya di bidang pendidikan dan kesehatan, lain halnya dengan Tim Unpar. Mereka satu-satunya tim pemenang di bidang lingkungan. Didasari oleh konsep reverse vending machine, mereka akan membuat plastic vending machine. Mesin otomatis ini akan menelan botol-botol Polyethylene Therepthalate (PET) bekas yang dimasukkan, kemudian mengeluarkan insentif berupa koin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia mengkategorikan botol PET sebagai kemasan sekali pakai karena bila digunakan berkali-kali, maka zat Bisphenol A (BPA) yang dilepaskan oleh botol akan berbaur dengan isi di dalamnya, misalnya botol air mineral, jus, atau soda.

Alya menceritakan pada Jumat siang itu bahwa proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Kota Bandung untuk membuang botol PET di tempat sampah yang seharusnya sehingga bisa didaur ulang. Berdasarkan penelitian tim, masyarakat Kota Bandung masih belum sadar untuk memilah sampah, khususnya botol plastik.

“Misalnya di Unpar, biarpun sudah ada tempat pemilahan, tapi kalau dilihat, masih ada saja yang membuang sampah enggak sesuai dengan kategori. Kita ingin meningkatkan awareness untuk membuang botol PET, supaya bisa dipilah pada tempatnya dan di-recycle. Uang yang keluar adalah hasil self-sustain dari penjualan botol. Basicly, kita menampung botol, dijual, dan ngasih uang ke orang-orang,” ujar Rima bersemangat.

“Kita sekarang sedang mematangkan konsep. Setelah menang kan kita harus menjaga kepercayaan. Dari segi teknis dan planning harus matang, mengurus surat ke Pemkot (Pemerintah Kota Bandung) dan The Resolution Project karena akan ada pertanggungjawaban,” tembah Alya.

Setelah dinobatkan sebagai pemenang, mereka harus melaksanakan dua proses, yakni menyelesaikan on-boarding process menjadi bagian dari Resolution Fellowship dan riset ulang karena mereka diberikan lima poin tugas. Kelima poin itu adalah mengenai keamanan mesin, metode alternatif selain memberikan koin sebagai hadiah, perizinan tempat ke Pemkot Bandung, langkah rinci per hari dan per bulan, dan rincian mengenai teknis cara bekerja mesin otomatis.

Pekerjaan rumah untuk mereka terbilang masih menumpuk. Namun, beban dana terangkat dari pundak mereka karena untuk merealisasikan proyek itu, tim Unpar dan para pemenang lain masing-masing mendapatkan dukungan dana sejumlah 3 ribu dolar AS dan bimbingan dari The Resolution Project sehingga komunikasi tetap terbina dan fellowship akan siap membantu.

“Enggak ada hasil yang mengkhianati usaha. Kita enggak hanya belajar jadi mahasiswa, tapi harus merealisasikan Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti,” ujar Rima dan Alya.

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Mar 14, 2017

X