“De Pancasila Nunquam Satis”, Peresmian Pusat Studi Pancasila Unpar

Pancasila Nunquam Satis

Memperkuat dan memperluas diskursus Pancasila sebagai falsafah, ideologi, dan dasar negara Indonesia menjadi panggilan semua rakyat Indonesia, termasuk komunitas akademik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Tuntutan ini  kian serius diperhatikan di tengah tantangan global dan primodial-sektarian yang kian meningkat akhir-akhir ini.

Unpar menjawab situasi ini dengan meresmikan Pusat Studi Pancasila Unpar, pada 15 Februari 2017 lalu. Hal tersebut menunjukkan komitmen Unpar sebagai perguruan tinggi yang menjunjung semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Arkeologi Pancasila di Unpar

Unpar mewarisi spirit Pancasila dari dua pendiri bangsa Indonesia, Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta. Hal ini bisa dirunut pada kunjungan Presiden Sukarno pada 17 Januari 1961 saat Dies Natalis ke-6 Unpar.

Bung Karno secara gamblang dihadapan Sivitas Akademika Unpar mengatakan, “Saudara-saudara sekalian, apa sebab Republik Indonesia mengadakan universitas-universitas khususnya, umumya apa sebabnya Republik Indonesia mengadakan sekolah-sekolah? Tak lain dan tak bukan ialah Republik Indonesia itu ingin membangun satu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.”

Demikian juga Bung Hatta pada 26 April 1973 memberikan kuliah umum di Unpar berjudul “Ide Demokrasi dan Demokrasi Pancasila”. Dua peristiwa itu memperlihatkan betapa Unpar memiliki jejak arkeologis Pancasila yang kuat.

Arkeologi Pancasila di Unpar dipelihara dan dikembangkan juga oleh Prof. Dr. Mgr. N.J.C.Geise, OFM, salah seorang pendiri Unpar yang membentuk Kelompok Studi Pancasila Unpar pada 1975. Unpar ingin menyatakan diri sebagai kampus yang mewarisi Pancasila-nilai luhur bangsa Indonesia.

Di masa itu, Kelompok Studi Pancasila bekerja sama dengan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional/Wanhankamnas (sekarang Dewan Ketahanan Nasional/Wantannas) menerbitkan lebih kurang 14 naskah akademik seputar Pancasila.

Demikian juga secara internal, Unpar tanpa ragu mengadakan Kuliah Pendidikan Pancasila (2 SKS) dan Pendidikan Kewarganegaraan (2 SKS), Unpar menjaga komitmen untuk menerapkan pendidikan Pancasila di dalam proses pendidikannya. Hal tersebut menunjukkan betapa Unpar terus memelihara nilai luhur jati diri bangsa kita.

Hingga saat ini, Unpar pun tetap memasukkan mata kuliah Pancasila sebagai salah satu Mata Kuliah Umum (MKU) yang wajib ditempuh setiap mahasiswa. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah yang mewajibkan Pancasila sebagai mata kuliah di universitas seperti tertuang dalam UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Sejak awal pendirian pada 17 Januari 1955 hingga saat ini, jejak Pancasila di Unpar tetap dihidupi melalui mata kuliah, penerbitan buku tentang Pancasila, kegiatan lapangan berupa gladi sosial-budaya, spiritual, dan kebangsaan; juga dalam seminar, diskusi dan perlombaan esai serta karya seni.

Segala upaya ini mengantar Unpar yang bersemboyankan “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti (Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk di Baktikan kepada Masyarakat)” senantiasa bertekun mendarmabaktikan diri demi kebaruan pemikiran yang menyegarkan tentang Pancasila dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai falsafah yang menjadi kesepakatan politik bangsa Indonesia untuk hidup bersama memiliki akar historis, kultural serta religi yang kuat. Ia berakar dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan panggilan nilai universal setiap umat manusia. Namun, Pancasila juga kini dan ke depan menjadi orientasi hidup bersama kita sebagai bangsa. Untuk itu, falsafah bangsa ini perlu terus dibahasakan, dihidupi dari masa ke masa, ia harus menjadi konkret dalam kebijakan dan tata kelola hidup bersama sebagai bangsa.

Rektor Unpar, Mangadar Situmorang, Ph.D., dalam sambutan peresmian Pusat Studi Pancasila ini, mengatakan, perlu ada kerja konkret menghidupkan falsafah bangsa Indonesia ini. Hal yang sama juga dikatakan Prof. I. Bambang Sugiharto, guru besar Fakultas Filsafat Unpar, dalam kuliah pembuka peresmian Pusat Studi Pancasila bahwa sudah saatnya Unpar harus lebih agresif dan proaktif dalam menghidupkan nilai-nilai Pancasila.

Dir Intelkam Polda Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Raden Ruden Rudy Marfianto dalam sambutan peresmian ini juga mengatakan, demi menjaga eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia, seluruh komponen bangsa harus melaksanakan Pancasila baik sebagai dasar negara, maupun pandangan hidup bangsa dengan berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945. Dalam acara ini, Kombes Rudy atas nama Kapolda Jawa Barat mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Pusat Studi Pancasila  Unpar.

Pancasila bisa direfleksikan dalam berbagai disiplin ilmiah, baik dari bidang hukum, sosial politik, filsafat, ekonomi, maupun teologi. Maka dari itu, tepat bila dikatakan bahwa selalu ada yang dapat dikatakan tentang Pancasila (De Pancasila Nunquam Satis). [Unpar- Ketua Pusat Studi Pancasila Unpar Andreas Doweng Bolo]

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 28 Februari 2017)

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Feb 28, 2017

X