Cara Pandang Antisipatif

Cara Pandang Antisipatif

Martin Heidegger pernah mengatakan, “Kesadaran berbicara hanya dan terus menerus dengan cara tetap diam. “Mengapa kita terkejut dan serba tak siap dengan kejadian-kejadian yang buruk? Mungkin banjir, longsor, dan kecelakaan yang terjadi di sekitar kita menunjukkan pudarnya daya imajinasi di depan begitu kuatnya daya spekulasi.

 

Kekacauan di Jalan

Turunlah ke jalan, dan kita akan segera mengalami kekacauan yang begitu banal dan harus diterima mentah-mentah setiap hari. Motor-motor berbelok dan berpindah jalur hampir tanpa pretensi. Mobil-mobil berjalan pelan sekali seolah-olah pengemudinya tak tahu hendak pergi ke mana. Kemacetan demi kemacetan yang seperti tidak ada penyebabnya. Aneh sekali. Itu baru di jalanan. Belum kalau kita masuk ke wilayah ekonomi, kemasyarakatan, sosial, dan politik. Ketidakpastian, keraguan, dan kekacauan berkelindan. Menebak adalah sesuatu yang sudah tidak sempat lagi dilakukan, karena ketidakteraturan memang mengaburkan perencanaan di balik semua kejadian itu. Pantas berbagai peraturan dalam tanda-tanda visual maupun yang hanya disepakati pun dilanggar tanpa rasa bersalah. Celakanya, sekali lagi, kita harus menelan mentah-mentah semua mentalitas itu. Kita tahu bahwa semua itu salah, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Mungkin ada yang masih berharap bahwa para penegak hukum sudi mengawasi dan mengembalikan keteraturan. Akan tetapi, mungkinkah? Atau, berapa lama akan bertahan? Keteraturan tidak bisa ditekankan dari luar. Ia berasal dari dalam, layaknya sebuah ‘spiritualitas’. Ketika ‘daleman’ kita teratur rapih, perilaku kita ke luar pun akan teratur. Nah, siapa yang akan menegakkan keteraturan yang di dalam ini? Semua orang melihat ke atas, alias tidak tahu, tak punya ide. Salahkan saja Si Kesadaran.

Mungkin juga salah satu penyebab keadaan blank macam itu adalah kebiasaan berspekulasi yang didominasi intelek (pikiran). Otak kita senang menghitung dan mengukur, menganalisis dan berspekulasi. Kita sangat tergantung pada pikiran kita dan apa yang harus kita analisis sehingga tidak mampu ‘melihat’ apa yang akan terjadi. Kelompok intelektual, karenanya, sering dikontraskan dengan kelompok seniman. Kontras yang tidak adil, tentu saja, sebab seakan-akan hanya akademisi yang memakai pikiran. Yang jelas, dominasi daya spekulatif kita hanya canggih dalam hal hitung-menghitung, tapi tak berguna ketika harus memandang jauh ke depan.

Manakala kekacauan sepertinya dipelihara secara kolektif dalam pembiaran-pembiaran yang sudah menggunung di sekitar kita, tidak ada lagi yang dapat menduga apa yang akan terjadi. Itu sebabnya, kita tidak pernah ‘siap’ akan menghadapi bencana apapun, karena kita terlalu senang dipandang sebagai kaum intelektual. Kita kehilangan salah satu daya yang seharusnya memberi visi, suatu pandangan ke masa depan, yang bukan sebuah keterampilan untuk dipelajari. Daya ini hanya akan muncul dan menyeimbangkan kerangka pandang kita atas dunia kalau ia diberi kesempatan untuk mengarahkan pertimbangan kita.

Kalau dikaitkan dengan kenyataan di jalan pada awal tulisan ini, daya yang seharusnya diberi kesempatan itu membuat kita mampu menduga, meskipun terjadinya dalam waktu yang sangat singkat. Motor itu tidak ‘tiba-tiba’ berbelok, meskipun jelas tidak menyalakan lampu tanda. Akan tetapi, mata kita dapat menangkap bahwa pengendaranya menggerak-gerakkan kepala (dan helmnya) ke suatu arah. Nah, itulah tandanya, meskipun itu tak pernah tertulis di peraturan ketika kita menjalani ujian untuk memperoleh SIM. Adakah gunanya jika kita paksa pengendara itu menyalakan lampu tanda belok? Saya sangsi.

 

Memandang dan Memandang

Apa yang masih bisa ditawarkan dunia akademis kepada masyarakat? Cara pandang. Kita tidak bisa mengajarkan sebuah perubahan. Kita hanya bisa menawarkan suatu cara pandang, alternatif yang berbeda, kreativitas dalam menyimpulkan, dan kepekaan untuk mengantisipasi. Kalau sebuah kejadian yang buruk sudah terjadi, orang cenderung hanya mengomentari, karena memang sudah tidak bisa mencegah, kecuali berusaha memperbaiki kerusakan. Cara pandang yang ditawarkan akademisi mungkin tidak akan mengubah mentalitas penyebab bencana, tetapi memberi pilihan yang akan direkam dalam diri orang.

Kerangka pikir, atau kerangka pandang, seperti ini bukan tanpa konsekuensi. Di wilayah keilmuan, setidak-tidaknya kita tidak boleh memutlakkan hanya satu metode atau model. Metode penelitian yang selama ini  kita pakai  sangat tergantung pada model dan teori tertentu. Kalau tak ada model, kita kebingungan. Itu ibarat mahasiswa yang melakukan penelian pustaka (desk research) namun tidak menemukan satu buku pun untuk dianalisis. Karena memutlakkan model atau pustaka, kita terjerat pada cara pikir tertentu yang menutup kemungkinan bagi cara pandang. Menghitung dan merumuskan membutuhkan ‘bahan’ untuk dihitung dan dirumuskan, sedangkan membayangkan dan mengimajikan (dari Ing. to image) sifatnya menghadirkan sebuah realitas, bukan sekadar mengolah. Konsekuensinya, metode pembelajaran di universitas yang bersifat menawarkan cara pandang akan harus terbuka pada wilayah-wilayah heuristik, yang bisa digambarkan sebagai kesempatan untuk menemukan atau mempelajari sesuatu yang baru, melampaui teori dan model tertentu. Thomas Kuhn pernah memaklumkan islah “pergeseran paradigma” (paradigm shift) dalam filsafat ilmu. Ia tidak memaklumkan sebuah teori, dunia keilmuan. Ada kalanya solusi atas masalah tertentu di bidang ilmu kita justru diinspirasi oleh model yang lebih lazim dipakai dalam bidang ilmu yang lain sama sekali. Cara pandang bersifat hampir ‘meditatif’, sebab diandaikan bahwa kita tidak banyak berkata-kata. Apakah itu yang dimaksud Heidegger ketika mengatakan bahwa kesadaran itu terus menerus berbicara dengan tetap diam? Ketika terlalu banyak menganalisis, kita tidak akan mampu melihat apa yang (akan) terjadi. Memandang selalu adalah mengantisipasi. Mungkin tak semua kejadian dan bencana dapat kita cegah, tetapi sekurang-kurangnya kita akan lebih siap untuk menghadapi nyata dan, secara masuk akal, merencanakan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam. Mengatakan bahwa “alam marah” di hadapan bencana yang terjadi tidak akan menginspirasi siapapun, selain hanya bagus untuk berkhotbah.

 

Bukan Sekadar Menebak-Nebak

Keteraturan dari dalam pada dasarnya adalah suatu paradigma antisipatif, yang mestinya diperkenalkan dan diterapkan dalam metode-metode pembelajaran. Kadang-kadang para mahasiswa baru dipaksa untuk bersentuhan dengan permasalahan di masyarakat ketika mereka harus membuat tugas akhir. Terlambat. Perkenalan dan korelasi cara pandang ini dengan materi bidang studi seharusnya terjadi sejak awal kedatangan mereka di universitas. Kalau begitu, sasarannya bukan hanya mahasiswa, tetapi para pengajar. Apa gunanya ilmu pengetahuan jika hanya untuk dikumpulkan dan disimpan di dalam lumbung pribadi? Ilmu pengetahuan harus dipergunakan untuk mengantisipasi, dan seorang ilmuwan pun harus menginspirasi.

Sifat “tidak memaksa” cara pandang antisipatif mewakili karakter ‘diam’ kesadaran. Bukankah biasanya kita sadar pada saat terdiam? Dan sebaliknya, bukankah ketika terlalu banyak berbicara kita justru kelihatan tidak sadar (diri)? Kesadaran untuk memandang bukanlah sekadar menebak-nebak apa yang akan terjadi, melainkan suatu gestur dari dalam diri seseorang yang mampu menangkap hal-hal yang tak terpikirkan oleh intelek. Bencana masih akan terjadi di sekitar kita, namun kita bisa menawarkan dan lebih aktif menularkan semangat heuristik agar keseimbangan alam dapat dipulihkan kembali. Memperbaiki itu tetap penting, tapi mengimajikan realitas yang sedang, dan lebih lagi, yang akan terjadi itu dapat menyelamatkan banyak orang.

_______________________________________

Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC, S.Ag., STL., dosen teologi dogmatik dan filsafat di Fakultas Filsafat, Unpar. Sarjana filsafat dan teologi Fakultas Filsafat, Unpar; Lisensiat Teologi Dogmatik Katholieke Universiteit Leuven (KUL) Belgia; Doktor Teologi Gereja Radboud Universiteit Nijmegen (RUN) Belanda. Saat ini menjabar sebagai Kaprodi Ilmu Filsafat, Fakultas Filsafat, Unpar, dan chief editor Jurnal Internasional Filsafat dan Teologi “Melintas”.

 

Sumber: Majalah Parahyangan Edisi 2017 Kuartal I/ Januari-Maret Vol. IV No. 1 <<Download Versi Digital

Berita Terkini

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR Raih Penghargaan Pengabdian Masyarakat dari Tribun Jabar

UNPAR.AC.ID, Bandung – Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih penghargaan “Pengabdian Masyarakat Melalui Pendidikan”  dalam ajang Editor’s Choice 2.0 yang diselenggarakan surat kabar harian Jawa Barat, Tribun Jabar. UNPAR dinilai menjadi Perguruan Tinggi...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jan 20, 2017

X