Tren bisnis
Menefesto Unpar
Bandung, (PR),-Tren bisnis mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Katolik Parahyangan bergeser ke bisnis produk ready to wear. Padahal, pada tahun sebelumnya, lebih dari separuh kelompok mahasiswa menjual produk di bidang kuliner.
Pergeseran itu tampak dalam kegiatan “Menefesto 2016” yang digelar di area parker Trans Studio Mall Jalan Gatot Subroto pada Sabtu (12/11/2016). Lebih dari 80% gerai menawarkan produk ready to wear mulai dari pakaian, tas, sepatu, hingga jas hujan. Kurang dari lima gerai yang menawarkan jajanan kuliner.
Menefesto merupakan acara gelar bisnis dari Program Studi Manajemen Unpar. Kegiatan ini adalah hasil dari pembelajaran mahasiswa.
“Saya juga heran dengan pergeseran ini. Tetapi saya yakin, bisnis di bidang fashion ini merupakan dunia yang mereka pahami. Dan bahkan mereka lebih kreatif,” ujar pengajar di Program Studi Manajemen Unpar, Ronny Gunawan.
Ronny mengatakan, peserta acara Menefesto terdiri atas 40 kelompok mahasiswa semester V. dalam bisnisnya, pengajar menekankan pada keberlanjutan bisnis. Dengan modal yang besar, mereka harus lebih serius mengelola rencana bisnisnya.
Ronny mengatakan, rencana bisnis mereka harus lebih nyata. Dengan bisnis model yang dibuat, mahasiswa harus merencanakan projek tersebut hingga setahun ke depan. “Beberapa ada yang sudah memiliki rencana membuka took pada dua tahun ke depan. Rencana seperti ini yang harus dipikirkan,” ujarnya.
Bahkan, khusus acara gelar bisnis itu didatangkan juri yang menilai bisnis mereka. Salah satu juri Edward Satria menyebutkan, mereka sudah realistis menilai bisnis ready to wear lebih berlanjut dibandingkan dengan bisnis kuliner. Namun, untuk penguatan mahasiswa itu harus sering dipertemukan dengan pengusaha lain dan bergabung dalam incubator bisnis.
Berdayakan lokal
Salah satu kelompok menawarkan model tas ransel dengan label “Twist”. Reinaldo anggota kelompok menyebutkan Twist merupakan ransel yang dapat dipakai secara bolak-balik, sehingga pemakai seakan-akan memiliki ransel lebih dari satu.
Twist menyiapkan dua model yang dibedakan berdasarkan gender. Ransel laki-laki, karena ukurannya lebih besar, dihargai Rp.399.000. Sementara itu, ransel untuk perempuan dihargai Rp.299.000.
Kelompok lainnya menyasar pasar perempuan dengan menawarkan produk clutch. Produk itu memiliki desain binatang dengan ciri khas banyaknya saku di dalamnya. Dengan harga Rp 250.000-Rp 260.000, selama tiga pecan penjualan produk ini mampu mencapai lebih dari 40 buah.
Ada juga yang memilih menjual spray antiair untuk sepatu. Produk itu dipatok harga Rp 150.000. meski harganya mahal, selama sebulan telah terjual puluhan buah. (Dewi-yatini)***
Sumber: Pikiran Rakyat – Selasa, 15 November 2016





