PON Jabar
Banyak orang mengatakan bahwa jika sudah masuk ke bangku kuliah, hal tersebut menjadi tolok ukur bagaimana seseorang dapat dilihat apakah bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Jika diperhatikan, memang benar adanya. Kuliah memang menuntut tanggung jawab lebih dari mereka yang menjalaninya.
Dalam kehidupan kampus, mahasiswa dihadapkan terhadap pilihan untuk mengembangkan dirinya secara terus menerus. Tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga non-akademik, atau hanya menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Ketika akhirnya memutuskan untuk menjadi mahasiswa yang aktif, hal tersebut dapat dilakukan melalui keterlibatan di unit kegiatan mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, atau aktivitas lainnnya di luar kampus. Dengan demikian, tanggung jawab untuk dapat mengatur waktu sembari tetap mengejar prestasi menjadi tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang mahasiswa aktif.
Sering kali, mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi atau kegiatan lainnya lupa akan tanggung jawabnya untuk tetap berprestasi secara akademis dan membagi waktu secara seimbang. Namun, jika melihat pada gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Jawa Barat lalu, ternyata masih banyak atlet muda yang berprestasi di ajang tersebut, tetapi tetap tidak melupakan pendidikannya. Seperti apa mereka membagi waktu antara pendidikan dan profesinya sebagai atlet?
Dari sejumlah mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang menjadi perwakilan daerahnya di PON XIX Jawa Barat, 4 diantaranya membagikan kiat yang mereka terapkan dalam membagi waktu, antara kewajiban sebagai mahasiswa dengan profesinya sebagai atlet. Salah satunya, Rawafi Yaputra yang akrab dipanggil Rawa.
Rawa yang mewakili provinsi Jawa Barat dan meraih medali perunggu bersama timnya di cabang baseball. Ia mengatakan, hal terpenting dalam menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dan sebagai atlet adalah mengenal diri sendiri terlebih dulu. Dengan begitu, dirinya dapat menentukan metode belajar seperti apa yang dibutuhkan dan bagaimana caranya harus membagi fokus. Terlebih dirinya dipercaya sebagai Menteri Kemahasiswaaan pada Lembaga Kepresidenan Mahasiswa Unpar periode 2015-2016 lalu.
Hal senada juga juga diungkapkan oleh Yessy Venisia, atlet renang wakil Jawa Barat peraih medali emas untuk nomor 200 m gaya punggung pada PON XIX. Meski sempat vakum latihan pada 2013 saat masuk sebagai mahasiswa program studi Akuntansi Unpar, peraih medali emas cabang renang 200 m gaya punggung SEA Games 2011 ini akhirnya kembali aktif mengejar prestasinya sebagai atlet renang.
Perjuangannya membagi waktu yang sulit dengan kuliahnya pun tak sia-sia. Ia berhasil meraih prestasi membanggakan di beragam pertandingan. Perjuangan Yessy pun berbuah manis karena akhirnya terpilih mewakili Indonesia di cabang olahraga renang 200 m gaya punggung pada Olimpiade 2016 lalu melalui jalur wild card.
Berlatih dari Senin-Sabtu membuatnya harus rela hanya mengambil 18 sks setiap semester. Hal ini ia pilih agar tetap bisa menjalankan kewajibannya sebagai atlet dan tetap menjaga capaian akademisnya di posisi yang baik. Rekan seprofesi Yessy, Satrio Bagaskara juga mengungkapkan hal yang sama. Keduanya harus berlatih mulai pukul 5-8 pagi dan dilanjutkan sore hari pada pukul 4-7 malam. Menurut Satrio, untuk menjaga prestasi akademisnya, ia harus benar-benar memastikan dapat menangkap materi pembelajaran di dalam kelas karena waktu luang untuk belajar sangat terbatas.
Jessica Sylvia, atlet basket putri yang juga mewakili Jawa Barat pada PON XIX lalu pun mengungkapkan hal senada. Menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dan atlet, memang sulit. Seringkali ia harus mengajukan dispensasi untuk tidak menghadiri kelas karena harus berlatih atau bertanding. Baginya, salah satu hal utama yang harus diperhatikan dalam menjalani dua kewajibannya itu adalah menjaga kesehatan.
Dengan melihat cerita dari para atlet tadi, disimpulkan bahwa menjaga prestasi akademis sembari menjalankan profesi sebagai atlet memang tidak mudah. Namun, hal ini kembali bergantung pada kemauan untuk berkembang serta kemampuan tiap individu dalam menilai batas dirinya.
Meski pilihan akademis berbeda dengan profesi yang mereka geluti saat ini, para atlet muda ini mampu membuktikan keduanya dapat berjalan beriringan. Profesi atlet memang terbatas pada usia. Untuk itu, pengetahuan dan kemampuan di bidang akademis pun tetap perlu diperjuangkan demi menunjang masa depan mereka.
Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 18 Oktober 2016)





