Regionalisasi menjadi salah satu langkah dalam meningkatkan kerjasama antarnegara kawasan. Beragam cara dapat diterapkan sebagai langkah regionalisasi perguruan tinggi kawasan Asia. Mulai dari penyelenggaraan konferensi internasional berbasis kawasan, program pertukaran pelajar antar-universitas, cultural program, berbagai ajang kompetisi antarmahasiswa di kawasan, hingga berpartisipasi aktif dalam keanggotaan organisasi regional.
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) meyakini bahwa regionalisasi menjadi bagian penting bagi institusi pendidikan tinggi untuk menerapkan nilai-nilai dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sejak akhir 2014, Unpar secara resmi mengemban tugas sebagai Sekretariat Association of Christian Universities and Colleges in Asia (ACUCA) setelah sebelumnya kepresidenan ACUCA (2012-2014) dijalankan oleh Fu Jen Catholic University, Taiwan. Dalam kesempatan ini, Rektor Unpar secara ex-officio dipercaya untuk menjalankan tugas sebagai Presiden ACUCA periode tahun 2014-2016.
Unpar telah aktif menjadi anggota ACUCA sejak tahun 1976 bertepatan dengan didirikannya ACUCA dan Unpar menjadi salah satu founding members organisasi tersebut. Adapun periode Kesekretariatan ACUCA berganti setiap dua tahun sekali sesuai urutan dalam country representing ACUCA yang telah disepakati oleh anggota executive committee.
Negara yang tergabung sebagai anggota ACUCA di antaranya Filipina, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Taiwan, dan Thailand, yang jumlah keseluruhan universitas anggota ACUCA mencapai 59 universitas/institusi. Sebagai sebuah organisasi yang berpusat di kawasan Asia, ACUCA memiliki program kegiatan, seperti General Assembly & Biennial Conference, Executive Committee meeting, Management Conference, semester-based scholarship melalui Program Subsidi Beasiswa Student Mobility Scheme (SMS), dan student camp yang diperuntukkan bagi mahasiswa universitas anggota ACUCA.
Tumbuhkan Kecintaan Kearifan Lokal
Selama kurang lebih satu minggu lamanya, ACUCA Student Camp telah berhasil terselenggara pada 22-26 Agustus 2016 lalu di Ciwidey, Jawa Barat. Tema yang diusung kali ini yaitu “Local Spiritualities and Everydayness: Promoting Religious Conversation in Christian Higher Education”.
Dimulai dengan opening ceremony bertempat di Operation Room, Kampus Unpar, Ciumbuleuit, peserta disambut oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama, Dr. Budi Husodo Bisowarno yang mewakili Rektor Unpar (Presiden ACUCA). Sekretaris Jenderal ACUCA, Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Filsafat Unpar, turut hadir dan menyampaikan kata sambutannya.
Beliau mendorong para peserta untuk menikmati setiap agenda kegiatan melalui sharing ide dan pengalaman mengenai local spiritualities. Romo Tedjo, demikian beliau akrab disapa, juga mengatakan bahwa melalui kegiatan ini para mahasiswa diharapkan bisa belajar untuk mengembangkan komunikasi antar budaya sebagai bagian dari keseharian bermasyarakat.
Sebanyak 96 orang peserta yang berasal dari Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, FIlipina, Taiwan, dan Thailand, diajak untuk membagikan ide, pengetahuan, dan pengalaman mereka terkait dengan tema camp tahun ini. Mahasiswa yang datang dari latar belakang budaya, sosial-ekonomi, nationality yang berbeda dari sejumlah universitas/institusi anggota ACUCA juga didorong untuk memahami budaya lokal Indonesia dengan kekhasannya.
Para peserta tidak hanya berkesempatan mendengarkan keynote speech dari kedua narasumber, yaitu Ir. Henry Feriadi M.Sc., Ph.D. (Rektor Universitas Duta Wacana) dan Dr. Stephanus Djunatan (Dosen Unpar), mereka juga berdiskusi dengan peserta lainnya lewat sharing group discussion untuk memahami lebih jauh mengenai beragam sub-topik sesuai tema yang diusung.
Hal yang menarik dalam ACUCA Student Camp kali ini, yaitu kunjungan peserta ke Desa Rawabogo, Ciwidey, dan perjalanan mereka ke Gunung Padang, yang dilaksanakan pada hari ketiga kegiatan. Salah satu partisipan dari Jepang, Kwansei Gakuin University, Ryo Hasebe, mendapatkan kehormatan untuk secara simbolis mengenakan ikat kepala (iket) yang secara langsung dipakaikan oleh Kepala Desa.
Diharapkan, melalui ACUCA Student Camp, para mahasiswa dapat belajar untuk menumbuhkan rasa kepedulian, semangat cinta kasih dan solidaritas sesama serta kecintaan terhadap kearifan budaya lokal.
Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 13 September 2016)





